Kamis, 03 Januari 2013



Hari ibu

Hari ini hari ibu
Melewati belenggu yang terus memburu
Kapan ku bisa balas susumu, bu?
Hari kian cepat berlalu
Ku tetap mengemis padamu

Hari ini hari ibu
Mengingatkan betapa kau ibu
Rela membujur kaku demi sebongkah sagu
Untuk kumakan pagi ini, bu

Hari ini hari ibu
Membawaku melayang haru
Tanpa tahu kemana harus mengadu
Hanya kau ibu
Yang mampu menyapu deru
yang berhembus merdu
diantara dua mataku yang syahdu

Ibu,
Indahmu takkan pernah hilang dalam benakku
Membimbingku tuk selalu kembali padamu
Melakukan segala demi kau, ibu

Sedap kopyor susumu takkan tergantikan
Bahkan beribu-ribu gunung yang menjulang
Emas batang, dan
Semuanya lebih berarti
ibu

1/1/13.’idjah.garuda-jogja





Gerimis sunyi, akhiri malam sepi

Gerimis sunyi iringiku akhiri senja ini
Penghujung tahun,
habiskan malam sepi

Gerimis sunyi mengiringi tangis dihati
Ku ingin berlari
Menerawang menembus mimpi

Ku ingin pulang
Mengenang yang pernah hilang
Ku ingin pulang
Berharap ilalang kan berikan jalan yang membentang

Tahun silih berganti
Terus melangkah tanpa mengerti
Kelam mungkin kan bertemu lagi

Hmm.
Itu hanya angan sayang
Tugasmu belum usang untuk kau tinggalkan
Jangan biarkan tanggung jawabmu tergadaikan
Sayang

***
Gerimis sunyi dimalam ini
Bersama gerombolan kurcaci yang terpenjara sepi
Menikmati hari berganti
Bersama seberkas cahaya api yang menembus berahi
Membawaku terbang menuju langit sepi
Malaikat menanti

Gerimis sunyi di ujung pengganti
Mengukir mimpi baru tuk lengkapi
Mengandai-andai bagai badai
Gulung harapan baru yang menggebu di hari yang baru

***
Gerimis sunyi
Hanya berteman sepi kuukir kembali
Mimpi-mimpi yang terpendam dihati
Demi esok yang abadi
Perbaiki diri
Perbaiki hati
Bangkit dari sepi
Menuju esok hari berseri

1/1/13.’idjah.garuda-jogja






Belenggu Rumah Baru

Ku datangi setiap rumah yang kulalui
Mencoba tuk masuki hati
Tapi, semua tak berarti
Hadirku tak dikehendaki

Kucoba tuk mengerti semua yang terjadi
Mencoba bertahan
Walau panah menghujam tenang

Mengapa rumah itu begitu kelam?
Bagai malam tanpa bulan
Sepi tak ada harapan
Sunyi tanpa kedamaian

Dimana rumah idaman?
Rumah yang penuh kehangatan
Rumah yang penuh harapan

Hmm.

Ternyata semua itu hanya angan
Rumah yang kurindukan
Tak pernah mengharapkanku datang bertandang

Haruskah ku bertahan
Dalam rumah belenggu yang kelam?

27/12/12.’idjah.garuda-jogja


Sabtu, 15 Desember 2012



Senandung Kolong Jembatan

Patimura tak lagi menghidupi kendil kecil kolong jembatan
Dwi Sri tak lagi menyuburkan caping yang penuh peluh
Dan, bendera yang tak lagi berkibar demi ketentraman seongok sampah masyarakat dikolong jembatan

Apakah ini kejam?
Apakah ini adil?
Ataukah ini hanya cemooh dari burung gereja yang siap menyiarkan kematian?
Mati rasa, mati mata bahkan batin yang tak lagi rasakan kepiluan disudut kota

Apa ini gara-gara SBY?
Apa ini perbuatan tikus payah dan serakah?
Mereka menderita karena matahari tak lagi peduli dengan ladangnya
Sehingga ia rela membakarnya dengan panas bara

Nyanyian kepiluan dan senandung kepasrahan mengelilingi kendil kecil yang kosong
Meminta  setitik embun untuk menghilangkan dahagapun tak kuasa
Kini, anugerah tak lagi berkah dan
Hamparan padi tak lagi menggeliat menghidupi semut-semut kecil yang merayap di karpet beralaskan langit di kolong jembatan.

Apa Tuhan mulai bosan?

Bukan

Tuhan segan membiarkan kolong jembatan pergi tinggalkan kubah suci
Bekal mati memberinya titik kembali
Tuhan mengerti dan memberi arti atas segala yang diberi walau hanya sepercik kehidupan yang  memilukan nurani

‘idjah/14/12/12 garuda-jogja