Senandung
Kolong Jembatan
Patimura tak lagi menghidupi
kendil kecil kolong jembatan
Dwi Sri tak lagi
menyuburkan caping yang penuh peluh
Dan, bendera yang tak lagi
berkibar demi ketentraman seongok sampah masyarakat dikolong jembatan
Apakah ini kejam?
Apakah ini adil?
Ataukah ini hanya cemooh
dari burung gereja yang siap menyiarkan kematian?
Mati rasa, mati mata
bahkan batin yang tak lagi rasakan kepiluan disudut kota
Apa ini gara-gara SBY?
Apa ini perbuatan tikus
payah dan serakah?
Mereka menderita karena
matahari tak lagi peduli dengan ladangnya
Sehingga ia rela
membakarnya dengan panas bara
Nyanyian kepiluan dan
senandung kepasrahan mengelilingi kendil kecil yang kosong
Meminta setitik embun untuk menghilangkan dahagapun
tak kuasa
Kini, anugerah tak lagi
berkah dan
Hamparan padi tak lagi
menggeliat menghidupi semut-semut kecil yang merayap di karpet beralaskan
langit di kolong jembatan.
Apa Tuhan mulai bosan?
Bukan
Tuhan segan membiarkan
kolong jembatan pergi tinggalkan kubah suci
Bekal mati memberinya
titik kembali
Tuhan mengerti dan memberi
arti atas segala yang diberi walau hanya sepercik kehidupan yang memilukan nurani
‘idjah/14/12/12
garuda-jogja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar