Kamis, 03 Januari 2013



Belenggu Rumah Baru

Ku datangi setiap rumah yang kulalui
Mencoba tuk masuki hati
Tapi, semua tak berarti
Hadirku tak dikehendaki

Kucoba tuk mengerti semua yang terjadi
Mencoba bertahan
Walau panah menghujam tenang

Mengapa rumah itu begitu kelam?
Bagai malam tanpa bulan
Sepi tak ada harapan
Sunyi tanpa kedamaian

Dimana rumah idaman?
Rumah yang penuh kehangatan
Rumah yang penuh harapan

Hmm.

Ternyata semua itu hanya angan
Rumah yang kurindukan
Tak pernah mengharapkanku datang bertandang

Haruskah ku bertahan
Dalam rumah belenggu yang kelam?

27/12/12.’idjah.garuda-jogja


Sabtu, 15 Desember 2012



Senandung Kolong Jembatan

Patimura tak lagi menghidupi kendil kecil kolong jembatan
Dwi Sri tak lagi menyuburkan caping yang penuh peluh
Dan, bendera yang tak lagi berkibar demi ketentraman seongok sampah masyarakat dikolong jembatan

Apakah ini kejam?
Apakah ini adil?
Ataukah ini hanya cemooh dari burung gereja yang siap menyiarkan kematian?
Mati rasa, mati mata bahkan batin yang tak lagi rasakan kepiluan disudut kota

Apa ini gara-gara SBY?
Apa ini perbuatan tikus payah dan serakah?
Mereka menderita karena matahari tak lagi peduli dengan ladangnya
Sehingga ia rela membakarnya dengan panas bara

Nyanyian kepiluan dan senandung kepasrahan mengelilingi kendil kecil yang kosong
Meminta  setitik embun untuk menghilangkan dahagapun tak kuasa
Kini, anugerah tak lagi berkah dan
Hamparan padi tak lagi menggeliat menghidupi semut-semut kecil yang merayap di karpet beralaskan langit di kolong jembatan.

Apa Tuhan mulai bosan?

Bukan

Tuhan segan membiarkan kolong jembatan pergi tinggalkan kubah suci
Bekal mati memberinya titik kembali
Tuhan mengerti dan memberi arti atas segala yang diberi walau hanya sepercik kehidupan yang  memilukan nurani

‘idjah/14/12/12 garuda-jogja


Malaikat dan Bidadari

Ketika ku ratapi wajahmu yang kian renta
Raga ini meronta tak kuasa menahan asa
Sesal yang mencekal
Kelu yang kelabu
Melambungkanku pada masa lalu

Kecil
Mungil
Bidadari itu menggenggam erat tangan ini
Penuh kasih menuntunku ke jalan putih
Malaikat menggendongku kuat
Mengajarkanku perih

Kini
Ketika tangan ini mampu mengukir diri
Sayangmu tak pernah terhenti
Bahkan, ketika hati ini layu doamu tetap menggebu

Kalian bukan hanya bidadari dan malaikat yang menyinariku
Kalian bukan hanya bidadari dan malaikat yang telah mengantarkanku pada mimpi indahku
Tapi, kalian adalah anugerah terindah dalam hidupku
Dulu, kini, nanti dan untuk selamanya dalam hati

‘idjah.29/11/12 garuda-jogja

Kamis, 06 Desember 2012


Belajar dari Kepiting
 
Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Kompetisi membuat kita terlena,  iri, marah dan berusaha menghancurkan orang lain karena itu. Ketika orang lain sukses, kita sibuk merintangi mereka sehingga, kita lupa akan diri kita sendiri. Kita selalu menyalahkan orang lain karena kegagalan kita. Itulah mengapa ada istilah “susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah”.
Kita tidak menyadari sesungguhnya setiap orang punya hak untuk sukses. Daripada kita sibuk merintangi orang lain, lebih baik kita membantu mereka dan ikut berbahagia dengan keberhasilan mereka. Mengembangkan apa yang kita punya dan menjadi orang yang sukses setelah mereka akan lebih baik dibandingkan kita terus merasa iri pada orang lain dan terpuruk karena terlena untuk selalu menghancurkan orang lain dan melupakan keinginan atau impian kita sendiri.

Rabu, 28 November 2012



Dihempas kelabu

Mentari bersinar terang
Menyapu gelap malam
Kau datang memberiku kembang
Menyanjungku terbang

Hariku kau warnai dengan keceriaan
Hingga ku hanyut dalam gurauan

Kau hempaskanku ke jurang
Hingga ku tak bisa lagi terbang
Terpuruk dalam genggaman

Tahukah kawan?
Kau tlah hancurkan
Kepercayaaan
Kesetiaan yang pernah ku serahkan

Hariku yang indah kini gundah
 Musnah segala suka cita dihempaskan kelabu

‘idjah.24/11/12